Di Balik Jalan Medan, Aceh Dalam Bahaya

Ketua Laskar Panglima Nanggroe Sulaiman Manaf.

Namun tragedi paling menyayat hati terjadi belum lama ini. Seorang mahasiswa asal Simeulue ditemukan tewas dianiaya di sebuah masjid di kawasan Medan. Tempat suci yang seharusnya memberi perlindungan justru menjadi saksi bisu kekejaman. “Kami menemukannya bersimbah darah di serambi masjid,” kata seorang jamaah dengan suara bergetar. “Tak pernah terbayang, masjid bisa menjadi tempat berakhirnya nyawa seorang anak muda yang menuntut ilmu,” ungkapnya.

BACA JUGA...  Dari Wacana ke Aksi, Masa Depan PLTA Peusangan 4 di Tangan Semua Pihak

Peristiwa itu menambah panjang daftar risiko yang dihadapi warga Aceh di Sumatera Utara. Pungli, perampokan, pemerasan, jebakan narkoba, hingga kekerasan fisik bukan lagi sekadar cerita dari mulut ke mulut, melainkan realitas yang menekan kehidupan mereka. Setiap perjalanan menjadi ujian ketabahan, setiap interaksi bisa berubah menjadi ancaman, dan setiap waktu istirahat di ruang publik dapat berujung petaka.

BACA JUGA...  Toke Boh Giri Aceh Ke Istana Negara

“Kadang saya berpikir dua kali untuk ke Medan. Padahal kebutuhan usaha dan pendidikan penting,” kata seorang pedagang muda yang meminta namanya dirahasiakan. Ia mengaku selalu waspada, bahkan menyiapkan uang ‘cadangan’ untuk menghindari razia atau pungli yang kerap tak masuk akal. “Kalau tidak siap uang, bisa panjang urusannya,” ujarnya.