Di Balik Jalan Medan, Aceh Dalam Bahaya

Ketua Laskar Panglima Nanggroe Sulaiman Manaf.

Kematian mahasiswa Simeulue itu bukan sekadar angka statistik. Ia adalah potret nyata penderitaan manusia yang hidup di bawah tekanan sosial dan hukum yang lemah. Ia mewakili ribuan, bahkan jutaan warga Aceh yang menyeberang ke Sumut demi mencari nafkah, ilmu, dan kehidupan yang lebih baik, namun justru harus menghadapi diskriminasi dan kekerasan.

BACA JUGA...  Pejabat Bupati Aceh Selatan Cut Syazalisma Resmikan RSCS

Tokoh masyarakat Aceh di Medan menyerukan perlunya perlindungan hukum yang nyata bagi warga Aceh yang beraktivitas di wilayah Sumatera Utara. “Kami tidak minta perlakuan istimewa, hanya keselamatan dan keadilan yang seharusnya menjadi hak semua warga negara,” kata seorang tokoh diaspora Aceh yang enggan disebut namanya. Menurutnya, tanpa intervensi tegas dari aparat hukum, warga Aceh akan terus menjadi korban—korban diskriminasi, korban kekerasan, dan korban ketidakadilan yang tak kunjung berakhir.

BACA JUGA...  Dinilai Kreatif, Satpol PP dan WH Aceh Dapat Penghargaan Mendagri

Sementara itu, Ketua Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan terhadap warga Aceh di Medan. “Kami sangat berduka atas meninggalnya mahasiswa asal Simeulue. Ini bukan hanya tragedi individu, tapi tamparan bagi nurani kita semua,” ujarnya.

Ia meminta aparat kepolisian di Sumatera Utara dan Aceh untuk segera berkoordinasi menindak pelaku serta memastikan keamanan bagi warga Aceh yang beraktivitas di luar daerah.