BANDA ACEH (MA) — Duduk berjejer, bergerak serempak mengikuti irama, lalu syair dilantunkan dengan penuh penjiwaan. Begitulah salah satu wajah Likok Pulo, kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di kawasan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.
Di balik gerakan yang terlihat sederhana namun membutuhkan kekompakan, tersimpan pesan-pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Likok Pulo bukan hanya soal gerak tubuh. Syair menjadi bagian penting dalam pertunjukan, sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan nasihat, nilai keagamaan, kebersamaan hingga pesan sosial.
Nama Likok Pulo berasal dari kata likok yang merujuk pada gerakan atau lenggak tubuh, sedangkan pulo berarti pulau.
Dalam pementasannya, sejumlah penari laki-laki duduk berbaris dan melakukan berbagai gerakan secara serempak. Kekompakan menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan tersebut.
Di tengah para penari terdapat seorang pemimpin syair yang dikenal sebagai syekh. Ia melantunkan syair yang menjadi pengiring sekaligus pengarah suasana pertunjukan.
Perpaduan gerak, irama dan lantunan syair itulah yang membuat Likok Pulo memiliki karakter tersendiri. Penonton tidak hanya disuguhi sebuah pertunjukan visual, tetapi juga diajak mendengarkan pesan yang terkandung dalam setiap syair.
Ketika Tari Menjadi Media Nasihat
Dalam tradisi masyarakat Aceh, seni sering kali tidak berdiri sendiri. Kesenian menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan nilai, menghibur sekaligus memberikan nasihat.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















