Gerak dan syair berpadu menjadi satu pertunjukan. Nilai agama bertemu dengan kehidupan sosial, sementara tradisi tutur tetap hidup melalui lantunan syair.
Itulah yang membuat Likok Pulo memiliki arti lebih dari sebuah tarian.
Ia adalah bagian dari ingatan budaya masyarakat Pulo Aceh yang diwariskan melalui tubuh, suara dan kebersamaan.
Selama gerakannya masih dilakukan, syairnya masih dilantunkan dan maknanya masih dipahami, selama itu pula Likok Pulo memiliki ruang untuk terus hidup.
Sebab, melestarikan kesenian tradisional bukan hanya menjaga warisan masa lalu. Di dalamnya ada upaya mempertahankan identitas dan cara sebuah masyarakat bercerita tentang dirinya kepada generasi yang akan datang.
(ADV)















