Strategi Dan Nilai Tawar Pilkada Aceh 2024

Dari tiga pemilu tersebut, Partai Politik Lokal (Partai Aceh), biarpun masih sebagai partai pemenang pemilu di Aceh, namun perolehan suara semakin menurun, dan penurunan suaranya sangat sinifikan, hilang suara dan kursi diambil oleh partai nasional.

Ini menandakan bahwa Partai Aceh sebagai kekuatan lokal Aceh sudah mulai ditinggalkan rakyat Aceh. Bukan tanpa alasan rakyat Aceh tidak lagi memilih para kader terbaik Partai Aceh, rakyat sudah mulai bosan dengan janji-janji politik yang sering di cetuskan para kader partai Aceh.

BACA JUGA...  REGULASI TEGAS, EKSEKUSI TERGAGAP

Namun janji-janji politik tersebut belum mampu sepenuhnya direalisasikan seperti kemiskinan, masalah bendera, program pasca reintegrasi melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA) tidak merata, sehingga banyak mantan GAM, para korban konflik dan rakyat Aceh, mulai kecewa dan tidak lagi percaya pada elit Partai Aceh. Ini adalah satu indikator penyebab turunnya suara dan berkurangnya kursi di DPRA.

BACA JUGA...  Usman Lamreung: Aceh Termiskin Ada Dua Indikasi

Partai Aceh Rapat Kerja di Takengon
Rapat kerja Partai Aceh yang dilaksanakan beberapa hari yang lalu, penulis melihat hanya sebagai konsolidasi partai, dan hanya menpertegas kepada publik bahwa Partai Aceh, mengusung Muzakir Manaf sebagai calon gubernur pada pilkada kedepan.

Dalam pertemuan tersebut, Partai Aceh juga mempertegas dan meminta pemerintah pusat konsisten merealisasikan kesepakatan butir-butir MoU Helsinki dan pelaksanaan Pilkada tahun 2022 sesuai UUPA.