PULANG DENGAN TANGISAN BAHAGIA
SETELAH seluruh rangkaian bantuan dan pelayanan medis selesai, rombongan bersiap kembali ke Medan, Sumatera Utara. Tidak ada pesta perpisahan. Hanya pelukan, jabatan tangan, dan tangisan bahagia.
Tangisan yang bukan sekadar sedih, melainkan lega—karena di tengah keterisolasian, masih ada yang datang menembus lumpur dan longsor demi mereka.
Jeep-jeep itu kembali menyalakan mesin. Roda berputar, meninggalkan Kampung Sekumur dengan satu janji tak terucap: bahwa kisah mereka akan terus disuarakan.
Pengungsi Kampung Sekumur:
“Bantuan dari donasi adalah harapan kami untuk bisa bertahan hidup setelah bencana ekologi mahadahsyat itu.”
BENCANA TIDAK BERAKHIR KETIKA AIR SURUT
DI KAMPUNG Sekumur, bencana tidak berakhir ketika air surut. Ia berlanjut dalam sunyi, keterisolasian, dan keterbatasan layanan dasar.
Kehadiran JAC, STR, dan dokter muda IDI Jakarta membuktikan satu hal sederhana namun mendalam: kemanusiaan selalu menemukan jalannya, bahkan ketika jalan itu sendiri terputus.
Namun kemanusiaan tak boleh menjadi satu-satunya sandaran. Sekumur dan kampung-kampung lain di Aceh Tamiang membutuhkan kehadiran negara yang berkelanjutan—bukan hanya saat kamera datang, tetapi hingga kehidupan benar-benar pulih.














