Saat rombongan tiba di penghujung jalan terputus, tepat di bibir Kampung Sekumur, suasana berubah drastis. Warga berlarian mendekat. Anak-anak melambaikan tangan. Para orang tua berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Bagus, salah seorang relawan, tak mampu membendung air matanya.
“Melihat kegembiraan warga itu… rasanya semua lelah terbayar,” ujarnya singkat, suaranya bergetar.
BANTUAN YANG MENJADI HARAPAN
DI TENGAH pengungsian, seorang warga menyampaikan kalimat yang menohok nurani siapa pun yang mendengarnya.
“Bantuan dari donasi adalah harapan kami untuk bisa bertahan hidup setelah sembuh dari bencana ekologi mahadahsyat itu,” katanya.
Kalimat itu menggambarkan situasi Sekumur hari ini. Bencana bukan hanya menghancurkan rumah dan lahan, tetapi juga memutus akses, pelayanan kesehatan, dan rasa aman warga.
Tim kolaborasi JAC–STR kemudian bertemu dengan Imam, Kepala Dusun Kampung Sekumur. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis, sederhana, tanpa seremoni berlebihan. Di kamp yang seadanya itu, bantuan logistik menjadi penopang hidup sementara.
Namun perhatian utama justru tertuju pada dokter-dokter muda yang diboyong dari IDI Junior Jakarta.
PRAKTIK MEDIS DADAKAN DI TENGAH PENGUNGSIAN





