Amir, salah seorang anggota JAC, mengisahkan bagaimana misi ini bermula.
Ia menerima telepon dari rekan-rekan STR yang menyampaikan kondisi darurat di pengungsian. Warga membutuhkan dokter.
Anak-anak, lansia, dan ibu-ibu mengeluh sakit pascabanjir dan longsor. Akses tenaga medis nyaris tak ada.
“Teman-teman STR minta tolong, apakah JAC bisa membawa dokter dari IDI Junior Jakarta dan menunjukkan jalan ke Sekumur,” ujar Amir.
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Medan menuju Sekumur dikenal ekstrem. Jalur berlumpur, tanjakan terjal, serta longsoran tanah yang sewaktu-waktu bisa kembali luruh membuat kendaraan biasa tak sanggup melintas.
“Karena medannya sangat ekstrem, teman-teman STR dan IDI Jakarta mempercayakan JAC sebagai guidenya,” kata Amir.
MENEMBUS LUMPUR DAN LONGSOR
KONVOI jeep dan motor trail bergerak perlahan. Roda berputar, terbenam, lalu terangkat kembali. Beberapa kali kendaraan harus ditarik bergantian.
Di kiri-kanan, bekas amukan air dan lumpur masih jelas; sawah tertutup endapan, kebun rusak, dan rumah-rumah yang tinggal rangka.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Setiap meter yang ditempuh seolah mengingatkan betapa rapuhnya kampung-kampung di hulu DAS ketika alam kehilangan penyangga.














