TANPA menunggu lama, para dokter membuka praktik dadakan. Tikar digelar. Alat-alat medis sederhana dikeluarkan. Warga mengantre dengan tertib.
Keluhan bermunculan: infeksi kulit akibat lumpur, demam berkepanjangan, batuk, diare, hingga tekanan darah tinggi pada lansia. Anak-anak tampak lemah, sebagian mengalami gatal-gatal dan luka yang tak kunjung sembuh.
Bagi warga Sekumur, kehadiran dokter bukan sekadar pengobatan. Ia adalah pengakuan bahwa mereka tidak dilupakan.
Salah seorang ibu pengungsi memeluk anaknya erat usai diperiksa. “Sudah lama tidak ada dokter masuk ke sini,” ujarnya lirih.
LEBIH DARI SEKADAR AKSI SOSIAL
APA yang dilakukan JAC, STR, dan IDI Junior Jakarta membuka satu fakta penting: ketika negara lambat menjangkau wilayah ekstrem pascabencana, solidaritas warga sipil menjadi penopang utama kehidupan.
Namun di balik kisah heroik ini, tersimpan pertanyaan investigatif yang lebih besar; sampai kapan kampung-kampung seperti Sekumur harus bergantung pada relawan?
Akses jalan yang terputus, layanan kesehatan yang minim, serta dampak bencana ekologis berulang menunjukkan bahwa penanganan pascabencana belum menyentuh akar persoalan. Bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi akumulasi dari kerusakan lingkungan dan tata kelola wilayah hulu.





