Berbagai masalah tersebut sepertinya kepemimpinan Gubernur Nova Iriansyah lemah dan tidak mampu mengelola birokrasi dengan baik, sehingga berbagai masalah datang.
Berbagai masalah diatas juga tidak terlepas pada peranan birokrasi, dimana dalam penepatan posisi jabatan lebih banyak muatan politik daripada profesional sesuai dengan bidang masing-masing.
Nah, pertanyaan adalah bagaimana program reformasi birokrasi yang didegungkan Sekda Aceh, apakah hanya terkesan slogan saja, tanpa mampu menyelesaikan dan menjawab berbagai masalah selama ini terjadi.
Kasus-kasus diatas membuktikan perencanaan dan realisasi program sepertinya lebih pada menghabiskan anggaran.
Sebagai contoh misalnya Kapal Aceh Hebat, baru saja di beli dan sudah berlayar namun sudah mulai rusak, sudah wajar publik curiga dalam pengadaan kapal tersebut.
Begitu juga dengan program leumoe pijut (Lembu Kurus) ada masalah dalam proses tender dan pelaksanaannya, sehingga menuai kasus ditindak aparat penegak hukum pidana korupsi dan sekarang masalah pengadaan handuk bagi korban konflik.
Kok bisa lolos program handuk tersebut, kok tak selektif sekda, yang katanya beliau sangat selektif dan ketat perumusan anggaran dengan Tim TAPA, sepertinya Pemerintah Aceh gagal reformasi birokrasi
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














