Begitu juga dengan masalah investasi, sepertinya pemerintahan dibawah Nova Iriansyah, belum punya road mad yang jelas, buktinya adalah masalah investasi Uni Emirat Arab (UEA) sektor destinasi wisata Pulau Banyak, terkesan ada tolak tarik kepentingan di internal pemerintah Aceh, dan tidak konsisten dalam penentuan daerah investasi yang sering berubah-ubah.
Terkesan politis dan sepertinya tim staf sus Gubernur bidang investasi terlalu bernafsu. Seharusnya Gubernur Nova Iriansyah beserta timnya konsisten membangun investasi wisata, kalau sudah ditentukan di Pulau Banyak ya konsisten dijalankan.
Begitu juga dengan Kawasan Indutri Aceh (KIA) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sampai saat ini belum ada terobosan dan upaya mempercepat menghidupkan kawasan sentral industri di Aceh, terkesan lambat, penyebabnya salah satunya adalah disektor pelayanan, sehingga malah ironisnya ada investor yang sudah berkomitmen investasi, harus angkat koper, akibat lambatnya birokrasi dalam memenuhi kebutuhan para investor.
Pemerintah Aceh dibawah Gubernur Nova Iriansyah dengan anggaran yang besar belum mampu membawa Aceh menjadi Hebat sesuai visi yang ingin dicapai, dan kegagalan dalam berbagai kebijakan dan program bukan diakibatkan pandemi, namun lemah pada kepemimpinan Gubernur, karena gagalnya dalam melakukan reformasi birokrasi salah satunya. (*)
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














