Mangrove yang ditanam tidak menyanyikan lagu kebangsaan.
Tetapi hutan itu ikut menjaga pesisir, menyediakan ruang hidup bagi biota, dan membantu menopang kehidupan masyarakat.
Begitu pula sungai dan muara.
Keduanya bukan hanya jalur air, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat Aceh Tamiang.
Pekerjaan Belum Selesai
PELEPASLIARAN 640 anakan Tuntong Laut bukanlah akhir dari konservasi.
Justru setelah dilepas, tantangan berikutnya dimulai.
Apakah mereka mampu bertahan?
Apakah habitatnya tetap tersedia?
Apakah mangrove terus tumbuh?
Apakah kawasan pesisir tetap terlindungi?
Dan apakah perubahan yang terjadi akibat sedimentasi serta pengerukan dapat dikelola dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan pekerjaan lanjutan.
Demikian pula dengan muara.
Pengerukan dapat membuka jalur yang dangkal, tetapi keberlanjutan fungsi muara membutuhkan pengelolaan sedimentasi secara terus-menerus dan terukur.
Masyarakat nelayan juga membutuhkan kepastian bahwa jalur perairan tetap aman dan dapat digunakan.
Di sinilah tantangan Kuala Pusong Kapal berada.
Bukan sekadar bagaimana membuka kembali muara, tetapi bagaimana memastikan kawasan tersebut tetap sehat setelah pekerjaan selesai.
Bukan hanya berapa banyak satwa yang berhasil dilepas, tetapi bagaimana memastikan habitatnya tetap layak untuk kehidupan.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: YSLI















