Telur yang ditemukan kemudian diamankan. Ditangani. Ditetaskan. Anakannya dirawat hingga mencapai tahap yang memungkinkan untuk dikembalikan ke habitat.
Siklus itu membutuhkan waktu, tenaga, pengetahuan, dan konsistensi.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan YSLI yang dipimpin Yusriono telah menjadi mitra kerja konservasi Tuntong Laut selama kurang lebih 18 tahun.
Rentang waktu tersebut memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa bukan pekerjaan sesaat.
Ada proses panjang yang harus dijalankan secara berulang agar satwa yang diselamatkan tidak berhenti pada tahap penangkaran, tetapi benar-benar memiliki kesempatan untuk kembali hidup di alam.
Menjaga Telur, Menjaga Rumahnya
KONSERVASI tidak berhenti ketika Tuntong Laut dilepas ke sungai dan kawasan pesisir.
Sebab, menyelamatkan satwa tanpa menjaga habitatnya sama saja dengan menyelamatkan kehidupan tanpa memastikan rumahnya tetap ada.
Karena itu, pekerjaan konservasi yang dilakukan YSLI juga berkaitan dengan pemulihan kawasan pesisir, termasuk penanaman mangrove.
Ratusan ribu bibit mangrove disebut telah ditanam di kawasan pesisir.
Pohon-pohon tersebut bukan hanya berfungsi sebagai penghijau pantai.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: YSLI















