Ketika Merah Putih Bertemu Hutan Mangrove
DI UJUNG Aceh Tamiang, peringatan kemerdekaan tahun ini berlangsung dalam suasana yang berbeda.
Merah Putih berkibar di tepian muara.
Indonesia Raya berkumandang di antara sungai dan laut.
Di saat yang sama, 640 anakan Tuntong Laut menempuh perjalanan baru—meninggalkan tempat penetasan menuju alam yang menjadi rumah mereka.
Di kawasan yang sama, pengerukan dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalur muara yang tergerus sedimentasi.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam satu bentang pesisir.
Kuala Pusong Kapal akhirnya bukan sekadar tempat upacara.
Ia menjadi cermin kecil tentang bagaimana masa depan Aceh Tamiang akan ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan [antara sungai dan laut, pembangunan dan lingkungan, konservasi dan ekonomi, serta kebutuhan manusia dan keberlangsungan satwa].
Sebab, kemerdekaan di sebuah negeri kepulauan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi Merah Putih berkibar.
Kemerdekaan juga tercermin dari kemampuan menjaga sungai tetap mengalir, pesisir tetap hidup, nelayan tetap melaut, mangrove tetap tumbuh, dan satwa liar tetap memiliki tempat untuk pulang.
Di Kuala Pusong Kapal, 640 Tuntong Laut telah kembali ke alam.
Kini, giliran manusia memastikan bahwa rumah mereka tetap ada.[]
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: YSLI















