“Tidak ada bencana yang tidak reda, dan tidak ada musibah yang berkepanjangan. Semua pasti berhenti dan berlalu. Saatnya wartawan Aceh Tamiang menata kembali sendi ekonomi yang luluh lantak ini, dan bangkit bersama.”
[MUKTARUDDIN | CEO MEDIA ACEH DAN KETUA SPS ACEH].
DI LANTAI II Gedung DPRK Aceh Tamiang, Senin siang, 22 Desember 2025, suasana itu terasa berbeda. Tak ada hiruk pikuk konferensi pers, tak pula sorotan kamera yang biasa memburu pernyataan pejabat.
Yang hadir adalah para wartawan [orang-orang yang selama ini berdiri di balik berita] kini duduk sebagai korban.
Mereka adalah jurnalis dari perusahaan media anggota Serikat Perusahaan Suratkabar (SPS) Aceh, yang dalam beberapa pekan terakhir ikut terdampak bencana ekologis meteorologi paling parah yang pernah melanda Aceh Tamiang.
Rumah terendam, peralatan kerja rusak, jalur distribusi berita terputus, dan sendi ekonomi keluarga ikut luluh lantak.
Siang itu, SPS Aceh menyalurkan bantuan sembako. Bukan angka besar, bukan pula solusi tuntas.
Namun bagi para wartawan yang hidupnya ikut terseret arus banjir berlumpur, bantuan itu menjadi penanda penting; bahwa mereka tidak sendirian.
Bantuan peruntukkan 10 wartawan yang bertugas di Aceh Tamiang, baik anggota SPS maupun non-SPS. Berisi Beras, Telur, Mie instan, Susu, Roti, Bubuk Kopi, Gula, Pasta Gigi, Sikat Gigi, Sabun Mandi, Minyak Goreng, serta Kain Sarung.





