Diserahkan secara simbolis oleh Ketua SPS Aceh, Muktaruddin, kepada Kepala Biro Aceh Tamiang Media Aceh, Sayed Zainal M, SH, di Media Center Bersama Wartawan Peliput Bencana Ekologis. Sebuah ruang yang selama ini menjadi pusat liputan, kini berubah menjadi ruang empati.
WARTAWAN DI TENGAH PUING
ACEH TAMIANG bukan sekadar mengalami banjir biasa. Bencana ini datang dengan lumpur pekat, gelondongan kayu dari hulu, longsor tanah, dan arus deras yang menyeret apa saja di hadapannya. Jalan terputus. Jembatan ambruk. Rumah, sekolah, dan gedung publik dihantam log hingga rata dengan tanah.
Di tengah situasi itu, wartawan tetap bekerja. Mereka menembus genangan, melintasi jalan rusak, menulis dengan listrik seadanya, bahkan mengirim berita dari ponsel yang hampir kehabisan daya.
Ironisnya, di saat yang sama, sebagian dari mereka juga kehilangan rumah, kendaraan, dan alat kerja.
“Ini bukan hanya bencana alam. Ini bencana ekologi,” kata Sayed Zainal, lirih namun tegas.
Ia menekankan, kerusakan hulu, pembiaran lingkungan, dan eksploitasi yang tak terkendali telah menciptakan rangkaian kehancuran dari gunung ke hilir. Wartawan hanya mencatat, tapi mereka pun ikut menanggung akibatnya.
ULURAN YANG MENYENTUH





