- Armia Pahmi dan Sjafrie Sjamsoeddin Satu Panggung dalam Mitigasi Banjir Aceh Tamiang
“Ini bukan sekadar pengerukan sungai. Ini soal keselamatan warga. Jika Kuala Sungai Tamiang dibiarkan dangkal, kita sedang membiarkan bencana berikutnya menunggu waktu.”
[Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang].
“Negara tidak boleh datang setelah korban berjatuhan. Mitigasi harus didahulukan. Kita perkuat sistemnya, kita amankan rakyatnya.”
[Sjafrie Sjamsoeddin. Menhan RI].
DARI LUMPUR KE LEGITIMASI NEGARA
DI ACEH TAMIANG, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah denyut kehidupan. Dari aliran itulah sawah diairi, nelayan melaut, dan ekonomi desa berputar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sungai juga menjelma menjadi ancaman laten.
Banjir datang berulang. Air meluap cepat. Muara mendangkal. Sedimentasi menumpuk. Dan setiap musim hujan, warga di bantaran Sungai Tamiang hidup dalam kecemasan yang sama.
Bencana besar November 2025 menjadi titik balik. Air memang surut, tetapi endapan pasir dan lumpur tertinggal, mempersempit alur, memperdangkal muara, dan mengubah sistem hidrologi alami daerah aliran sungai (DAS) Tamiang.
Dari sinilah negara memutuskan masuk bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai pengelola risiko.





