OPINI  

Menggugat Arus Modernisasi: Menjaga Muruah Adat Aceh yang Mulai Terkikis

Praktik seperti ini bukan hanya menghilangkan kekhidmatan prosesi adat, tetapi juga mencerminkan adopsi budaya luar yang kurang selaras dengan nilai kesantunan masyarakat Aceh.

Ketika Peumulia Jamee Kehilangan Makna

Tarian Peumulia Jamee sejatinya merupakan simbol penghormatan tertinggi kepada tamu. Sirih yang disuguhkan penari melambangkan persaudaraan dan ketulusan dalam menyambut kedatangan seseorang.

BACA JUGA...  Membangun Ketahanan Pangan Aceh: Saat Logistik Tak Boleh Kalah dari Bencana

Namun ironisnya, kini tidak jarang tarian tersebut disertai praktik “saweran” atau penyelipan uang kepada penari di tengah pertunjukan. Akibatnya, makna sakral sebagai simbol pemuliaan tamu bergeser menjadi sekadar hiburan komersial.

Jika terus dibiarkan, generasi mendatang mungkin hanya mengenal bentuk luarnya, tanpa lagi memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Muruah Busana Dara Baro yang Mulai Tergerus

BACA JUGA...  Pendidikan sebagai Hak Dasar dan Tantangan Nyata di Aceh

Busana adat Dara Baro Aceh memiliki kekhasan yang sangat kuat. Salah satunya adalah penggunaan celana panjang—sesuatu yang jarang ditemukan pada pakaian adat perempuan di daerah lain di Indonesia.

Pilihan busana ini bukan tanpa makna. Ia melambangkan karakter perempuan Aceh yang tangguh, mandiri, berwibawa, bahkan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Namun hari ini, banyak modifikasi busana adat yang mulai meninggalkan pakem aslinya. Celana panjang diganti dengan kain menjuntai panjang demi mengikuti tren estetika modern. Perlahan, filosofi ketangguhan perempuan Aceh pun ikut memudar.