OPINI  

Menggugat Arus Modernisasi: Menjaga Muruah Adat Aceh yang Mulai Terkikis

Kini, pemandangan berbeda justru lebih sering terjadi. Calon pengantin pria ikut hadir, memasangkan cincin secara langsung di depan dekorasi pelaminan mini, lalu melakukan sesi foto romantis layaknya pasangan yang telah sah.

Padahal secara syariat, hubungan tersebut belum halal, sementara pertunangan sendiri belum tentu berakhir di pelaminan. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana budaya visual modern perlahan menggantikan nilai kehati-hatian dan adab yang selama ini dijunjung dalam adat Aceh.

BACA JUGA...  Pencabutan Izin ACT Tidak Proporsional

Intat Linto dan Pudarnya Filosofi Kehormatan

Dalam prosesi Intat Linto, rombongan pengantin pria sejatinya disambut para tetua adat dan tokoh gampong. Sementara Dara Baro bersama ibundanya menunggu dengan takzim di dalam rumah atau di ambang pintu.

Tradisi ini mengandung pesan simbolik yang mendalam: perempuan menjaga kehormatan rumah tangga dari dalam, sementara laki-laki datang sebagai pemimpin keluarga yang membawa tanggung jawab kehidupan.

BACA JUGA...  Moral Call: Kemewahan Seorang Leader

Kini, filosofi itu mulai pudar. Tidak sedikit prosesi adat yang justru menempatkan Dara Baro dan keluarganya berdiri di luar rumah menyambut rombongan. Bahkan, demi menciptakan suasana “meriah”, sebagian pembawa acara melakukan improvisasi berlebihan dengan mewawancarai kedua mempelai, meminta mereka saling melontarkan ungkapan romantis di depan khalayak.