Bagi Armia, blusukan bukan sekadar gaya populis, tapi alat diagnosis sosial.
“Kalau mau menyembuhkan daerah, kita harus tahu penyakitnya dari dekat,” ujarnya dalam sebuah wawancara informal.
Metode itu mirip dengan gaya kepemimpinan lapangan yang menekankan empati dan partisipasi langsung. Ia percaya bahwa setiap kebijakan harus lahir dari interaksi, bukan hanya perintah administratif. “Rakyat harus merasa disentuh, bukan sekadar didata,” katanya.
Menyapa dengan Hati.
Di setiap rumah yang ia kunjungi, Armia selalu menghabiskan waktu mendengar. Ia jarang berbicara panjang. Kadang ia duduk diam, menatap wajah-wajah warga yang menua karena kerja keras.
Sikapnya tenang, tatapannya lembut. Dalam situasi itu, kehadirannya bukan lagi sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama manusia yang mencoba memahami penderitaan orang lain.
“Pak Bupati datang ke rumah kami tanpa pemberitahuan,” kata Nurlela, warga setempat. “Saya kira tamu biasa. Tapi setelah beliau keluar, baru saya tahu itu bupati. Rasanya seperti mimpi.”
Kisah warga yang Dia temui menjadi percakapan hangat di warung-warung kopi Rantau malam itu. Bupati datang tanpa seremoni, tanpa kamera media, hanya untuk melihat kondisi mereka. Bagi warga, kunjungan itu seperti pengakuan: mereka tidak lagi tak terlihat.




