Ketika Pemimpin Menunduk, Rakyat Merasa Dilihat

Ketika Pemimpin Menunduk, Rakyat Merasa Dilihat. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | DigitalArt].

“Rakyat kita tidak butuh belas kasihan, tapi peluang untuk bekerja dan tumbuh.”

[Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., Bupati Aceh Tamiang].

PAGI, Jumat itu, udara masih dingin di Kampung Sukaramai, Kecamatan Rantau. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon pinang dan rumpun bambu.

Di kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan dengan langkah kaki seorang lelaki yang menyusuri jalan rabat beton tampak mulai keropos.

BACA JUGA...  DAS TAMIANG DALAM KEPUNGAN SEDIMENTASI; DUA DEKADE KEGAGALAN NEGARA MENGELOLA SUNGAI

Ia berjalan tanpa pengawalan berlebihan, hanya ditemani beberapa staf dan seorang camat. Di tangannya, map cokelat berisi catatan kecil tentang kondisi kampung.

Lelaki itu adalah Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., Bupati Aceh Tamiang.

Armia memilih meninggalkan ruang kerja berpendingin udara dan menukar sepatu dinasnya dengan sepatu lapangan.

Ia datang bukan untuk memberi sambutan, melainkan untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya dari jarak sedekat, mungkin; [dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah].

BACA JUGA...  Dari Pesantren untuk Indonesia

Dari Laporan ke Kenyataan.

Sebelum langkah pertamanya di Sukaramai, Armia sudah menerima tumpukan laporan dari berbagai dinas, data kemiskinan, angka stunting, program bantuan sosial, dan potensi ekonomi pedesaan. Namun, semua itu tak cukup baginya.

“Laporan itu penting, tapi sering kali tak berwajah manusia,” katanya kepada penulis. “Saya ingin melihat sendiri, bagaimana hidup dijalani di balik angka-angka itu.”

Kata Armia, blusukan menjadi caranya membaca realitas tanpa filter birokrasi. Ia menyusuri gang kecil di antara rumah papan, sebagian besar berdiri di atas tanah yang becek dan lembap.