Akses ke layanan kesehatan dan pendidikan terbatas, apalagi saat musim hujan ketika jalan kampung berubah menjadi kubangan.
Di tengah keterbatasan itu, Armia menemukan sesuatu yang lain: semangat bertahan.
Ia bertemu dengan seorang pemuda, yang mencoba menanam sayuran di lahan sempit belakang rumahnya. “Saya tak punya modal besar, Pak,” Sebut Pemuda itu, “tapi saya ingin tunjukkan kalau orang kampung juga bisa mandiri.”
Armia tersenyum lebar. “Rakyat kita tidak butuh belas kasihan, tapi peluang untuk bekerja dan tumbuh,” ujarnya. Kalimat itu kemudian menjadi catatan penting dalam agenda kerjanya.
Kesehatan, Luka yang Tak Terlihat.
Di ujung kampung, Armia singgah di sebuah Posyandu kecil. Bangunannya semi permanen, sebagian dindingnya retak. Di dalam, bidan desa sedang menimbang bayi dengan timbangan gantung sederhana.
“Kalau malam ada yang mau melahirkan, kami pakai lampu senter,” kata sang bidan, tertawa getir. “Tapi Alhamdulillah, selama ini ibu-ibu di sini kuat-kuat.”
Armia mencatat setiap detail: kekurangan alat medis, stok obat yang sering habis, dan jauhnya jarak ke Puskesmas. Ia berdiskusi singkat dengan tenaga kesehatan, menanyakan sistem distribusi obat dan mekanisme rujukan pasien.
“Dalam rumah dan tubuh yang sehat,” katanya kemudian, “akan lahir semangat membangun dalam tatanan kehidupan masyarakat.”
Kalimat itu diucapkannya dengan nada reflektif, seperti sebuah prinsip hidup.




