Haiqal mempertanyakan mengapa dirinya yang menjadi sasaran, sementara kericuhan telah lebih dahulu terjadi.
“Mereka datang dari arah yang cukup jauh dan langsung mengarah kepada saya. Pertanyaannya sederhana, kalau memang tujuan mereka melerai kericuhan, mengapa justru saya yang didatangi dan dipiting?” ujarnya.
Ia juga menyebut, salah seorang anggota TNI yang diduga terlibat, yakni Sertu Hendra, masih menunjukkan gestur menantang setelah dilerai oleh anggota Polsek.
“Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya seperti menantang. Itu yang saya rasakan langsung di lokasi,” katanya.
Haiqal juga mengakui bahwa sebelum kejadian tersebut, dirinya beberapa kali merasakan sikap sinis Sertu Hendra ketika berpapasan. Namun, ia mengaku tidak mengetahui apa yang menjadi pemicunya.
Diduga Ada Motif Lain?
Ketua PWI Lhokseumawe Sayuti Achmad menilai insiden tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak boleh dipisahkan dari aktivitas jurnalistik Haiqal selama ini.
Menurut Sayuti, Haiqal dikenal sebagai wartawan yang kritis dan dalam beberapa waktu terakhir intens melakukan peliputan terkait dugaan penggelapan dana kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tanah Luas serta sejumlah persoalan lainnya.
“Kami sudah melakukan investigasi. Kami menemukan banyak pihak yang merasa risih dengan kehadiran Haiqal karena pemberitaannya kritis. Karena itu, kami melihat kejadian ini perlu diperiksa secara serius. Jangan sampai kericuhan dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap wartawan,” tegas Sayuti.















