“Kalau memang untuk pengamanan, apa kapasitas dan kepentingan militer dalam melakukan pengamanan pertandingan sepak bola? Ini harus dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan tafsir liar di tengah masyarakat,” katanya.
Sayuti juga menjelaskan pihak nya telah membentuk tim Investigasi sejak tadi malam, untuk menulusuri informasi-informasi dilapangan, kuat berkaitan dengan sentimen pemberitaan-pemberitaan haiqal selama ini.
Sementara itu, Haiqal Alfikri menjelaskan bahwa sebelum kericuhan terjadi, dirinya berada di tribun bagian belakang bersama seorang personel Polsek Tanah Luas.
Ia mengaku masih menyaksikan selebrasi yang dinilainya mengarah pada ejekan dan gestur provokatif dari salah seorang pemain bernomor punggung 18 dari kesebelasan Trieng setelah peluit akhir dibunyikan wasit.
Ketika kericuhan mulai terjadi, Haiqal turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi sebagai bagian dari tugas jurnalistiknya.
Namun, karena dirinya merupakan warga salah satu tim, keberadaannya kemudian diduga disalahpahami oleh salah satu pihak sebagai bentuk keberpihakan. Haiqal mengaku sempat terlibat aksi dorong dan kemudian dihampiri seseorang yang menurutnya merongrong dirinya.
“Saya turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi. Ketika ada yang merongrong saya, saya hendak menjelaskan kapasitas saya sebagai wartawan. Dalam kondisi ramai, saya memang merespons dengan nada tinggi,” ujar Haiqal.















