Kritik yang Berisik, Kepentingan yang Tersembunyi

Rabu, 4 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sulaiman

Di balik riuhnya kritik anggaran yang belakangan muncul, publik perlu bersikap lebih waspada. Tidak semua suara lantang lahir dari kepedulian terhadap kepentingan rakyat. Dalam banyak kasus, kritik justru menjadi kemasan baru bagi kepentingan lama.

Ada udang di balik batu. Nama rakyat kerap dicatut, kepentingan publik dijadikan jargon, transparansi dielu-elukan, namun ujungnya tetap sama: fulus APBA. Narasi dibangun sedemikian rupa agar tampak bermoral, padahal substansinya adalah tekanan.

BACA JUGA...  Rambo: PT Bentonite Itu Legal, Jangan Digoreng Opini Negatif

Fenomena ini bukan hal baru. Setiap kali ada kepentingan yang tidak terakomodasi—gagal masuk lingkar kekuasaan, tidak dilibatkan sebagai tim sukses, atau tak kebagian paket pekerjaan bernilai miliaran—maka kritik mendadak mengeras. Isu korupsi, KKN, dan ketertutupan anggaran disebar dengan nada tinggi, sering kali tanpa data yang memadai.

Yang menarik, ketika kepentingan itu terpenuhi, suara-suara kritis tersebut perlahan menghilang. Seolah masalah tata kelola tiba-tiba selesai. Pola ini terlalu berulang untuk disebut kebetulan.

BACA JUGA...  Peran Perempuan untuk Menyelamatkan Ekosistem Leuser

Di tengah kondisi ini, muncul pula apa yang bisa disebut sebagai pengamat odong-odong—hadir tanpa rekam jejak, tanpa metodologi, namun penuh sensasi. Kritiknya dangkal, narasinya bombastis, tujuannya jelas: terkenal cepat dan diperhitungkan. Bukan untuk memperbaiki sistem, melainkan untuk menciptakan posisi tawar.

Berita Terkait

Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional
Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:55 WIB

Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian

Senin, 27 Juli 2026 - 20:02 WIB

Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Pilar Wirotama: Tantangan Komunikasi Bukan Sekadar Framing

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:15 WIB

NASIONAL

Ketua Umum SPS: AI Harus Jadi Pengungkit Bisnis Pers

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:10 WIB

Foto bersama kedutaan besar Myanmar, Mang Hau Thang didampingi Counsellor Shwe Yi Phyo, First Secretary San Nyunt Aung, dan Chief of Chancery Htet Htet Aung dan KSMI, Ketua Umum Yan Mulia Abidin, dan pengurus lainnya, Tundra Meliala, Moko Pamungkas, Meina Paloh, M. Iksan Tauleka, Dudung Abdul Rachman, Marino. (Dok.KSMI)

OLAHRAGA

Perkuat Persahabatan Asia, Myanmar Bergabung 

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:05 WIB

NASIONAL

Purbaya Mulai Mengimbangi Perhatian Publik terhadap Prabowo

Selasa, 22 Sep 2026 - 18:30 WIB

Pedagang  berdiri dan depan "lapak", berharap Pemkab peduli terhadap keberadaan Pasar Inpres Tapaktuan, Selasa, (22/9/2026).(Foto/mediaaceh.co.id/Maslow Kluet).

EKBIS

Pasar di Aceh Selatan Sepi, Ini Penyebabnya 

Selasa, 22 Sep 2026 - 18:23 WIB