Ketika Hujan Turun Masyarakat Trauma : Pemerintah Harus Peka

Jumat, 9 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sayed Fauzi,S.Sos (Sayed Panton). Foto : ist.

Sayed Fauzi,S.Sos (Sayed Panton). Foto : ist.

Oleh: Sayed Panton

Bencana banjir bandang, banjir longsor, dan longsor yang kerap melanda sejumlah wilayah di Aceh telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Setiap kali hujan turun, baik deras, sedang, bahkan ringan, selalu muncul pertanyaan di benak warga: “Apakah akan banjir atau tidak?” Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya mencerminkan trauma kolektif yang belum sepenuhnya pulih. Ketakutan itu bukan tanpa alasan, sebab pengalaman pahit telah berulang kali mereka rasakan.

BACA JUGA...  Kehancuran Kerajaan Besar di Dunia

Peristiwa bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera menjadi salah satu catatan kelam yang sulit dilupakan. Banjir bandang datang begitu cepat, menghanyutkan rumah warga, merusak infrastruktur, merenggut nyawa, serta memusnahkan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dampak fisik memang terlihat jelas, namun dampak psikologis sering kali luput dari perhatian, padahal trauma yang dialami masyarakat bisa berlangsung jauh lebih lama daripada kerusakan bangunan.

BACA JUGA...  Saatnya Mendesak Belanda untuk Mengakui Kemerdekaan RI Secara De Jure

Dalam konteks ini, muncul berbagai pertanyaan: siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintah sebagai pemangku kebijakan, segelintir manusia yang merusak alam, atau justru masyarakat itu sendiri? Pertanyaan tersebut sejatinya tidak untuk saling menyudutkan, melainkan menjadi bahan introspeksi bersama. Sebagai umat beriman, kita meyakini bahwa segala musibah adalah cobaan dari Allah SWT. Namun demikian, ikhtiar manusia untuk mencegah, mengurangi risiko, dan memulihkan dampak bencana tetap menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

BACA JUGA...  PRAJA TURUN TANGAN DI BUMI MUDA SEDIA

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

Dalam rangka peringatan HUT TNI ke-81, TNI AL. Lakukan pengobatan gratis terhadap warga.

EDUKASI

TNI AL dan Mubadala Energy Hadir untuk Warga

Kamis, 8 Okt 2026 - 23:04 WIB

Pertemuan Bupati Aceh Utara Ayah Wa dengan para ulama kharismatik saat membahas peringatan HSN Tahun 2026 di Aceh Utara, Kamis, (8/10).

PEMERINTAHAN

Persiapan HSN 2026, Ayah Wa Gandeng Ulama 

Kamis, 8 Okt 2026 - 22:52 WIB

Dari kiri ke kanan: Abdul Rahman, Abdul Hadi, Syawaluddin, Jurnalisa, dan Hendra Vramenia. Kelima anggota PWI Aceh ini dinyatakan kompeten oleh LUKW Pikiran Rakyat Bandung sebagai calon penguji kompetensi wartawan. (Dok Peserta ToT Pikiran Rakyat)

RAGAM BERITA

SPS Aceh Rekom Lima Wartawan PWI dan  Lulus Calon Penguji

Kamis, 8 Okt 2026 - 19:59 WIB