“Setiap peradaban lahir dari keseimbangan antara akal, iman, dan budaya. Ketika salah satunya runtuh, maka jatuhlah peradaban itu, bukan karena perang, tetapi karena kehilangan arah moral,”
[Dr. Usman Lamreung, M.Si dalam satu sesi refleksinya di EDR]
DI RUANG senyap sebuah lembaga riset bernama Emirates Development Research (EDR), Dr. Usman Lamreung, M.Si menatap jauh ke jendela dunia yang ia sebut “Negeri Empat Penjuru Pintu Angin.”
Hikayatnya diceritakan pada penulis apa dan mengapa Negeri itu disebut bukan sekadar geografi, melainkan metafora dari peradaban yang dahulu agung [namun kini kehilangan arah kompasnya sendiri]. Kini hanya menyisakan catatan sejarah.
“Setiap peradaban lahir dari keseimbangan antara akal, iman, dan budaya. Ketika salah satunya runtuh, maka jatuhlah peradaban itu, bukan karena perang, tetapi karena kehilangan arah moral,” ujar Dr. Usman dalam satu sesi refleksinya di EDR.
Empat Penjuru yang Pernah Menjadi Cahaya Dunia.
Dalam telaahnya, Dr. Usman menyinggung akar historis dari istilah “Empat Penjuru Pintu Angin”, yang merujuk pada peradaban Yunani Kuno. Yunani, negeri yang berdiri di persilangan empat arah dunia:
Boreas (Utara); membawa angin dari Eropa; simbol nalar dan logika.
Notus (Selatan); hembusan dari Afrika; lambang spiritualitas dan kehangatan iman.
Euros (Timur); angin dari Asia; cermin kebijaksanaan dan tradisi.
Zephyr (Barat); dari Laut Mediterania; tanda keterbukaan dan kebebasan berpikir.
Yunani menjadi peradaban yang hidup di antara empat arus besar itu. Dalam catatan sejarah, negeri tersebut bukan sekadar pusat perdagangan dan filsafat, melainkan ladang tempat nilai-nilai harmoni antara akal dan iman tumbuh bersama.




