Hikayat Dr. Usman Lamreung, M.Si; Esensi Negeri Empat Penjuru Pintu Angin dan Krisis Arah Peradaban

Selasa, 4 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Dr. Usman Lamreung, M.Si. Direktur Lembaga EDR.

Ilustrasi Dr. Usman Lamreung, M.Si. Direktur Lembaga EDR.

“Setiap peradaban lahir dari keseimbangan antara akal, iman, dan budaya. Ketika salah satunya runtuh, maka jatuhlah peradaban itu, bukan karena perang, tetapi karena kehilangan arah moral,”

[Dr. Usman Lamreung, M.Si dalam satu sesi refleksinya di EDR]

DI RUANG senyap sebuah lembaga riset bernama Emirates Development Research (EDR), Dr. Usman Lamreung, M.Si menatap jauh ke jendela dunia yang ia sebut “Negeri Empat Penjuru Pintu Angin.”

BACA JUGA...  dr. Azizy Gladylola Mastura, Jejak Bakti Sang Putri Jenderal

Hikayatnya diceritakan pada penulis apa dan mengapa Negeri itu disebut bukan sekadar geografi, melainkan metafora dari peradaban yang dahulu agung [namun kini kehilangan arah kompasnya sendiri]. Kini hanya menyisakan catatan sejarah.

“Setiap peradaban lahir dari keseimbangan antara akal, iman, dan budaya. Ketika salah satunya runtuh, maka jatuhlah peradaban itu, bukan karena perang, tetapi karena kehilangan arah moral,” ujar Dr. Usman dalam satu sesi refleksinya di EDR.

Empat Penjuru yang Pernah Menjadi Cahaya Dunia.

BACA JUGA...  Merawat Damai Dari Pidie Jaya

Dalam telaahnya, Dr. Usman menyinggung akar historis dari istilah “Empat Penjuru Pintu Angin”, yang merujuk pada peradaban Yunani Kuno. Yunani, negeri yang berdiri di persilangan empat arah dunia:

Boreas (Utara); membawa angin dari Eropa; simbol nalar dan logika.

Notus (Selatan); hembusan dari Afrika; lambang spiritualitas dan kehangatan iman.

Euros (Timur); angin dari Asia; cermin kebijaksanaan dan tradisi.

Zephyr (Barat); dari Laut Mediterania; tanda keterbukaan dan kebebasan berpikir.

Yunani menjadi peradaban yang hidup di antara empat arus besar itu. Dalam catatan sejarah, negeri tersebut bukan sekadar pusat perdagangan dan filsafat, melainkan ladang tempat nilai-nilai harmoni antara akal dan iman tumbuh bersama.

BACA JUGA...  Dari Posyandu ke Panggung Penghargaan; Kerja Sunyi Aceh Tamiang Lawan Stunting

Berita Terkait

Rp101 Miliar Bertambah, APBK Aceh Tamiang Masuk Meja DPRK
Merawat Damai Dari Pidie Jaya
Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi
MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak
Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah
Tiga Hari Yang Menguji Diri
Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan
Dari Bantuan Darurat ke Ekonomi Mandiri

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 11:36 WIB

Rp101 Miliar Bertambah, APBK Aceh Tamiang Masuk Meja DPRK

Rabu, 16 September 2026 - 21:30 WIB

Merawat Damai Dari Pidie Jaya

Sabtu, 12 September 2026 - 19:56 WIB

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Rabu, 9 September 2026 - 18:16 WIB

MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak

Jumat, 4 September 2026 - 09:45 WIB

Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Anto Genk Apresiasi SPS Workshop Series: AI Jadi Peluang Baru

Rabu, 23 Sep 2026 - 23:39 WIB

Ketua PSI Provinsi Aceh, Anwar Tgk. Rabo.

PERISTIWA

PSI Aceh: Jangan Viralkan Identitas Anak di Ruang Digital

Rabu, 23 Sep 2026 - 23:34 WIB

KESEHATAN

Bank Aceh Sosialisasi IBC Ke Sekolah 

Rabu, 23 Sep 2026 - 22:58 WIB

NEWS FEATURE

SLCN Perkuat Kesiapsiagaan Nelayan Hadapi Cuaca

Rabu, 23 Sep 2026 - 17:46 WIB