Agama Sebagai Cahaya, Bukan Pagar.
Bagi Dr. Usman, inti dari peradaban sejati adalah agama yang menjadi cahaya, bukan pagar. Syariat harus menjadi napas kehidupan sosial, bukan sekadar ritual atau simbol kesalehan publik.
“Ketika agama dijadikan alat penghakiman, maka nuraninya mati. Tapi ketika agama dijadikan sumber inspirasi, maka lahirlah kemajuan yang beradab,” katanya.
Dalam kerangka pemikiran ini, ulama dan cendekiawan harus berperan bukan hanya sebagai penjaga moral, tapi juga penuntun arah sosial [yang mengajarkan keseimbangan antara iman dan akal, antara adat dan kemajuan].
Harapan di Ujung Angin.
Meski demikian, Dr. Usman tidak menutup lembaran harapan. Baginya, “Negeri Empat Penjuru Pintu Angin” masih memiliki modal kultural yang kuat, sejarah kebijaksanaan, kearifan lokal, dan masyarakat yang, meski terluka, tetap mencintai kedamaian.
“Selama rakyatnya mau belajar dari perbedaan, menempatkan agama sebagai cahaya dan bukan pagar, maka kesejukan angin dari empat penjuru itu akan kembali berembus,” ujarnya menutup refleksi.
Ketika keseimbangan itu pulih, negeri ini akan kembali berdiri tegak; bukan sebagai bangsa yang gamang di persimpangan, melainkan bangsa yang berjalan mantap dengan iman, akal, dan keberanian.




