Namun, sebagaimana diuraikan Dr. Usman, makna “Empat Pintu Angin” bukan hanya milik masa lalu, melainkan perumpamaan bagi setiap bangsa yang hidup di persimpangan nilai dan zaman [termasuk negeri kita hari ini].
Ketika Angin Kehilangan Arah.
Kini, kata Dr. Usman, negeri itu [dalam makna simbolik] tengah dilanda kebingungan moral dan sosial. Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai yang dulu menjadi akar identitas bangsa mulai tergerus.
“Agama berubah menjadi ajang tafsir yang memecah, bukan yang mempersatukan. Syariat kehilangan ruhnya ketika dijalankan tanpa rasa dan kebijaksanaan,” ujarnya lirih.
Di negeri ini, tafsir agama yang seharusnya menjadi penerang, sering berubah menjadi alat untuk membenarkan kepentingan kelompok.
Tradisi yang seharusnya menjadi pagar moral justru menjadi penghambat inovasi. Masyarakat terjebak antara romantisme masa lalu dan kegagapan menghadapi masa kini.
Dr. Usman menyebutnya sebagai “kebingungan arah peradaban” [di mana rakyat tidak lagi tahu mana prinsip], mana simbol; mana nilai, mana sekadar atribut.
Benturan Moralitas dan Modernitas.
Fenomena sosial yang ditelaahnya begitu kompleks; Penolakan terhadap ekspresi seni, ketakutan terhadap hal baru, dan sikap curiga terhadap setiap bentuk perubahan.




