Semua ini, kata Dr. Usman, bukan tanda ketaatan, melainkan ketakutan yang lahir dari kehilangan kepercayaan diri kultural.
“Modernisasi tanpa kesiapan nilai akan menimbulkan kekacauan, sementara tradisi tanpa inovasi hanya melahirkan kebekuan berpikir,” tegasnya.
Menurutnya, moralitas yang semestinya menjadi panduan kini berubah menjadi pagar pembatas. Dialog sosial mati. Masyarakat lebih sibuk menuding daripada memahami.
Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk menjaga kemurnian masa lalu; namun di sisi lain, realitas sosial menuntut penyesuaian.
Keduanya berjalan tanpa jembatan. Dan di situlah lahir krisis identitas kolektif yang menggerogoti jantung negeri.
Peradaban Bukan Sekadar Nostalgia.
Dr. Usman menilai, banyak masyarakat modern hari ini terjebak dalam romantisme kejayaan lama. Mereka ingin kembali pada masa raja dan ulama besar, saat hidup terasa tertib dan sakral. Namun, sejarah [katanya] tidak bisa diputar.
“Yang perlu dikembalikan bukan bentuk masa lalu, melainkan nilai kebijaksanaan yang melahirkan masa itu,” ungkapnya.
Ia menegaskan, peradaban yang besar tidak tumbuh dari nostalgia, melainkan dari kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Kebijaksanaan harus diperbaharui, bukan dipertahankan dalam bentuk lama yang beku.




