Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA
PAGI ini, udara Kota Fajar terasa begitu sejuk dan tenang. Kabut tipis turun perlahan di antara pohon kelapa, seolah menyambut langkah-langkah kecilku menuju kompleks Dayah Darurrahmah, tempat seorang ulama besar Aceh Selatan pernah menanam benih ilmu dan adab.
Ulama besar itu tidak lain adalah Abon Kota Fajar, Abuya Syaikh Tgk. H. Hasbi Nyak Diwa.
Di sudut kompleks ini, di bawah naungan kubah ada makam, tempat terbujur tenang jasad seorang guru yang telah melahirkan banyak ulama.
Aku pun duduk bersila di sisi makam tersebut. Angin pagi berhembus dengan lembut, membawa aroma tanah basah dan keheningan yang membuat dada terasa lapang.
Hati ini bergetar, mengingat betapa luas jasa dan ilmu beliau bagi negeri ini.
Cahaya yang Tak Padam di Kota Fajar
Hari ini, saya mengajar perdana di kelas mahasiswa STAI Tapaktuan yang kuliah di dayah ini, para dewan guru Dayah Darurrahmah itu sendiri. Mereka adalah penerus cita-cita Abon, generasi yang menyalakan kembali obor ilmu di tempat beliau pernah berdiri.
Sebelum memulai kuliah, saya memilih singgah di makam Abon. Bukan untuk mencari sesuatu, tapi untuk meneguhkan niat, untuk mengingat bahwa setiap ilmu yang diajarkan harus berangkat dari keikhlasan, sebagaimana yang diwariskan Abon.




