Dalam diam, saya teringat pesan yang sering disebut-sebut oleh santri beliau.
“Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang sombong. Ia hanya hinggap pada jiwa yang tenang dan tunduk kepada kebenaran.”
Pesan sederhana, tapi menjadi dasar bagi seluruh perjalanan pendidikan di dayah ini.
Abon dan Tradisi Ilmu yang Beradab.
Nama Abon Kota Fajar bukan hanya dikenal di Aceh Selatan, tapi juga di seluruh pantai barat selatan dan Aceh umumnya. Beliau adalah guru, mursyid, dan pembimbing rohani yang menanamkan ilmu turats—kitab-kitab klasik—dengan penuh kesabaran dan kelembutan.
Beliau tidak membangun dayah semegah istana. Tapi dari dayah yang sederhana ini, lahir para pendakwah, guru, dan pemimpin yang membawa nilai-nilai ahlussunnah wal jama‘ah ke berbagai pelosok Aceh.
Mereka belajar tidak hanya dari kitab, tapi dari keteladanan beliau dalam hidup sehari-hari: kesabaran, tawadhu’, dan istiqamah.
Kini, ketika beliau telah wafat sejak 28 Januari 2020, dayah itu tetap hidup. Kelas-kelas masih berjalan, santri-santri masih membaca kitab di bawah lampu-lampu malam, dan suara pengajian tetap menggema di balai-balai. Itulah tanda bahwa ruh ilmu Abon belum pernah padam.
Bertabaruk dan Melanjutkan Jalan
Duduk di makam beliau pagi ini, seakan mendengar kembali nasehat dan petuah beliau: “Ajarkan dengan kasih, bukan dengan marah. Sampaikan dengan adab, bukan hanya dengan suara.”




