OPINI  

Tabaruk di Makam Abon Kota Fajar, Disini Ilmu dan Adab Tak Pernah Mati

Pusara Abon Kuta Fajar di Komplek Pasantren Darurrahmah Kluet Utara Aceh Selatan.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

Itulah yang menjadi bekal kami memulai perkuliahan hari itu, bersama para guru dayah. Di antara mereka, ada yang dahulu pernah mencium tangan Abon, ada yang sempat mendengar langsung nasihat beliau.

Kini, mereka menimba ilmu akademik untuk memperkuat keilmuan dayah, menjembatani antara turats dan perguruan tinggi.

Inilah jalan baru pendidikan Islam di Aceh Selatan: ketika ilmu dayah bertemu dengan ilmu kampus, tanpa saling meniadakan. Sebuah simbiosis indah antara hikmah masa lalu dan pengetahuan masa kini.

BACA JUGA...  Putusan MK Tentang Presidential Treshold Adalah Sebuah Tragedi Demokrasi 

Guru yang Tetap Mengajar dalam Keheningan

Sebagai penutup, sebelum meninggalkan makam, saya menunduk dan membaca doa. Dalam hati, merasa seolah Abon masih mengajar, tapi kali ini dari alam sunyi.

Mengajarkan bahwa ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang disampaikan dengan cinta, dan bahwa guru sejati tidak mati, mereka hanya berpindah tempat untuk terus mendoakan murid-muridnya.

BACA JUGA...  Warga Pertanyakan Pengelolaan Kios Kota Fajar 

Hari ini, kami mengajar bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di ruang hati.
Dan di sini, di Kota Fajar, saya yakin: adab dan ilmu akan terus tumbuh sebagaimana doa Abon yang tak pernah putus.

“Ya Allah, kasihilah para guru kami sebagaimana mereka telah mendidik kami di waktu kecil.”
(QS. al-Isra’: 24).

BACA JUGA...  Menjaga Independensi Pers dari Intervensi

Penulis : Dosen STAI Tapaktuan, Aceh Selatan.