Itulah yang menjadi bekal kami memulai perkuliahan hari itu, bersama para guru dayah. Di antara mereka, ada yang dahulu pernah mencium tangan Abon, ada yang sempat mendengar langsung nasihat beliau.
Kini, mereka menimba ilmu akademik untuk memperkuat keilmuan dayah, menjembatani antara turats dan perguruan tinggi.
Inilah jalan baru pendidikan Islam di Aceh Selatan: ketika ilmu dayah bertemu dengan ilmu kampus, tanpa saling meniadakan. Sebuah simbiosis indah antara hikmah masa lalu dan pengetahuan masa kini.
Guru yang Tetap Mengajar dalam Keheningan
Sebagai penutup, sebelum meninggalkan makam, saya menunduk dan membaca doa. Dalam hati, merasa seolah Abon masih mengajar, tapi kali ini dari alam sunyi.
Mengajarkan bahwa ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang disampaikan dengan cinta, dan bahwa guru sejati tidak mati, mereka hanya berpindah tempat untuk terus mendoakan murid-muridnya.
Hari ini, kami mengajar bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di ruang hati.
Dan di sini, di Kota Fajar, saya yakin: adab dan ilmu akan terus tumbuh sebagaimana doa Abon yang tak pernah putus.
“Ya Allah, kasihilah para guru kami sebagaimana mereka telah mendidik kami di waktu kecil.”
(QS. al-Isra’: 24).
Penulis : Dosen STAI Tapaktuan, Aceh Selatan.




