Oleh: Femas Rahmat Azra
SOSIAL media berfungsi sebagai lanskap dinamis di mana pengguna tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga produsen.
Setiap postingan, komentar, dan berbagi menciptakan ekosistem informasi yang saling terhubung.
Algoritma canggih yang mengatur apa yang muncul di feed kita sering kali membuat kita terjebak dalam “gelembung echo,” di mana hanya pandangan yang sejalan yang terdistorsi.
Melalui mekanisme itu, sosial media (sosmed) bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga arena di mana opini bisa dibentuk dan diuji.
Selaku mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USK, penulis menanggapinya, bahwa, di era globalisasi ini, sosial media menjadi senjata ampuh dalam strategi politik.
Politisi, aktivis, dan gerakan sosial saat ini, memanfaatkan semua platform sosial media untuk menjangkau audiens yang lebih luas, lebih mudah dan dengan biaya yang relatif rendah. Saat ini perang politik bukan lagi perang senjata akan tetapi perang digital seperti pemanfaatan cyber account untuk kepentingan politik tertentu.
Namun, di balik kemudahan ini, terdapat risiko besar yaitu manipulasi informasi. Kita telah melihat contoh konkret di mana berita palsu dan propaganda dibanjiri feed pengguna, mengaburkan batas antara fakta dan disinformasi. Hal ini menciptakan iklim di mana kepercayaan publik terhadap institusi politik semakin terkikis.




