Ini perang terbuka, aku melihat fisik sayap militer GAM menembakkan moncong senjatanya ke kami. Pada kondisi ini, kami sebagai jurnalis tidak bisa mengambil foto untuk mengabadikan bentrokan ini, sangat berbahaya.
Sebab tidak ada perlindungan yang memungkinkan untuk memotret, saat tembakan ter jeda beberapa detik kesempatan ini aku gunakan untuk berlari berlindung di batang pohon mangga besar.
Bentrokan bersenjata sudah 2 jam berjalan, APC pun sudah masuk mendekati arah perbukitan, memukul mundur pasukan sayap militer GAM.
Aku dan kawan-kawan tak bisa beringsut ke belakang, terlalu rawan jika tanpa pengawalan [Untuk kembali ke mobil. Jarak aku dan mobil Ismail berkisar 800 meter] sebab masih terus berlangsung.
Tiba-tiba aku melihat Muhrizal Hamzah surut ke belakang menyelamatkan senjata milik seorang prajurit yang terkena tembakan.
Akupun bergegas dengan sikap tiarap, merangsek mendekati seorang personel yang terkena tembakan senjata GAM. Paha kanan personel TNI itu jebol kena muntahan timah panas.
Aku dan Muhrizal menarik kedua tangan personil TNI yang bersimbah darah tersebut surut ke belakang, ke arah APC lalu dibantu personil TNI lainnya mengangkat temannya yang tertembak tersebut masuk ke dalam lambung APC.




