Semua kami menganggukkan kepala, jarak mobil sedan milik Ismail pun hanya terpaut 10 meter saja dari body APC tersebut.
Degup jantung pun semakin kencang, kegelisahan Ismail semakin terlihat saat kami memasuki Meunasah Meusjid sebab dentuman senjata semakin keras.
Sekira pukul 14.00 WIB APC terdepan menerima siraman peluru M16, klenting…klenting peluru Kuningan itu membentur tubuh APC, kejadiannya tepat di belakang Meunasah [Mushala] dusun Lampu’uk Meunasah Blang.
Namun serangan sporadis yang hanya 30 detik itu tiba-tiba senyap, bagai ditelan bumi. APC memberikan perlawan dengan menembakkan senjata mesin kaliber 7.66mm ke arah penyerang.
Namun tak ada balasan, saya dan Ismail serta teman teman yang lain ikut turun, mengikuti 10 orang kru APC menyisir ke lokasi arah penyerang.
Para penyerang sudah tidak ada lagi di tempat. Kru APC hanya menemukan ransel, sepatu pacuk dan satu lembar bendera GAM yang tertinggal.
Kami pun masuk kembali ke mobil masing-masing melanjutkan penyisiran, hanya berjarak 3 kilometer dari dusun Lampu’uk tiba-tiba kami diserang secara terbuka oleh Teuntara Nasional Aceh (TNA) Sayap Militer GAM berjarak 100 meter di depan kami.
Tepatnya di Dusun Meunasah Blang, kru APC pun melepaskan tembakan balasan bertubi-tubi ke pasukan Sayap Militer GAM pimpinan Teungku Muharram.




