Situasinya masih terus terjadi kontak senjata, suara dentuman RCWS memuntahkan kaliber 12,7 milimeter itu menggelegar, membahana ke seluruh pelosok empat dusun di Lampu’uk memekakkan genderang telinga.
Gempuran pasukan personil TNI dan dua APC memaksa pasukan militer GAM mundur ke arah laut di balik gunung Lampu’uk. Sedikit demi sedikit suara nyalak bedil tak terdengar lagi.
Aku dan teman-teman mulai beringsut menapak ke bawah, menunduk dan zig zag agar jika ada tembakan bisa terhindar.
Rasa was-was masih terus menyelimuti aku dan kawan-kawan, satu jam lamanya kami menuruni perbukitan dan parit. Akhirnya sampai ditempat mobil terparkir.
Dua APC mengiringi kami keluar dari lokasi bentrokan senjata TNI dan GAM Wilayah Lhoknga Leupung besutan Teungku Muharram.
Unit APC mengantar kami hanya sampai ke simpang tiga arah Lhoknga, Lampu’uk dan Banda Aceh. Lalu balik lagi ke lokasi pertempuran menyisir wilayah itu dan menyerahkan mayat yang tertembak ke kampung.
Tiga jam, telah berlalu, membuat bergidik bulu kuduk, mencekam dan kucuran keringat ketakutan menemani vonis hidup atau mati ku di pedalaman Gampong Lampu’uk.
Sampai kapan pun tak terlupakan, bahwa aku dan kami sekalian adalah bagian dari perjalanan panjang, 32 tahun konflik Aceh menoreh dan mencatat hitam putihnya pergolakan itu, Wallahu’alam Bishawab. [*].




