Kru lainnya, mengikuti di luar laju APC dari kiri kanan body APC. Kami pun mengikuti dari belakang secara rapat.
Pelan-pelan pasukan sayap militer GAM terpukul mundur masuk ke perbukitan Lampu’uk sambil melepaskan tembakan ke arah TNI.
Dan kami pun keluar dari mobil masing-masing, dengan gerakan tiarap merangsek mendekati kru APC yang sudah mendahului ke depan sambil melepaskan tembakan.
Tak terelakan kru APC pun memuntahkan peluru SMB RCWS berkaliber 12,7 milimeter dari luv nya. Suaranya menggemparkan seisi dusun, ledakannya dahsyat memukul mundur pasukan Teungku Muharram.
Seorang TNI menjerit melihat Ismail seperti kebingungan, “Tiarap…tiarap…tiarap,” teriaknya sambil menunjuk ke arah Ismail.
Tetapi Ismail tetap saja tegak dan berjalan ke sana ke mari, tak tentu arah. Begitu kalutnya dia, bajunya basah dengan peluh, wajahnya pucat, tingkahnya bagai orang linglung.
Aku terus merangsek, merangkak, mengikuti Muhrizal Hamzah yang tak jauh di depan ku. Kurasakan ini akhir hidupku [Di arena pertempuran 10 detik bisa merubah seseorang hidup atau mati], desingan peluru itu tak jauh dari kepala dan tubuhku hanya hitungan centimeter saja.
Aku tak terpikir lagi tentang bagaimana Ismail, sebab aku sudah jauh merangsek masuk ke dalam arena pertempuran yang hanya berjarak 250 meter saja.




