OPINI  

Sentimen Menggantikan Argumen, Apa yang Tersisa dari Pilkada  Demokratis?

Misalnya, kegagalan sering kali dikaitkan dengan “gangguan eksternal” seperti ancaman dari luar negeri, atau musuh politik domestik, yang pada akhirnya mengalihkan perhatian dari akuntabilitas pribadi sang politisi. Ini menjadi strategi efektif untuk menghindari pertanggungjawaban secara langsung atas kinerja dan janji politik mereka.

Kembalikan Pilkada pada Esensinya

Jika kita terus membiarkan sentimen menggantikan argumen dalam Pilkada, apa yang tersisa dari proses demokrasi yang seharusnya mendewasakan masyarakat?

BACA JUGA...  Pancasilais vs Kapitalis Liberal

Pilkada bukan hanya sekedar memilih siapa yang paling populer atau siapa yang mampu memicu sentimen terkuat.

Tetapi, Pilkada adalah persoalan tentang memilih pemimpin yang benar-benar memiliki kemampuan untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Untuk mengembalikan esensi demokrasi dalam Pilkada, kita harus memulai dengan menuntut lebih kepada para kandidat.

Masyarakat perlu didorong untuk lebih kritis dalam menilai program, menuntut debat yang berfokus pada kebijakan, dan menolak manipulasi sentimen yang dangkal.

BACA JUGA...  Kapolda Aceh Irjen Achmad Kartiko Harapkan Personel Polri  Paham Post-Truth

Media massa atau media sosial juga memiliki peran penting untuk memfasilitasi perdebatan yang berbasis data, bukannya memperkuat sentimen yang memecah belah.

Mengedukasi pemilih juga  penting, bahwa memilih pemimpin bukan hanya soal siapa yang bisa menggerakkan emosi mereka, tetapi tentang siapa yang paling mampu membawa perubahan nyata.