OPINI  

Sentimen Menggantikan Argumen, Apa yang Tersisa dari Pilkada  Demokratis?

Narasi seperti itu,  tentu lebih mudah diterima karena menyentuh emosi dasar manusia, yaitu rasa kebersamaan dalam kelompok.

Namun, apakah politik identitas ini mampu membawa solusi nyata bagi masalah yang dihadapi daerah?

Pertanyaan  lain, apakah sekedar merasa bangga memiliki pemimpin yang “seperti kita” bisa menyelesaikan tantangan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja? Jawabannya, tentu tidak.

BACA JUGA...  Tak Pantas Beny K Harman Mengolok-olok Perdamaian Helsinki

Ketika sentimen identitas menjadi alat utama dalam Pilkada, bisa  berisiko terhadap kehilangan substansi dalam memilih pemimpin yang benar-benar kompeten dan mampu bekerja untuk semua orang, bukan hanya untuk kelompok tertentu.

Janji Politik yang Populis dan Tanpa Dasar

Selain politik identitas, sentimen juga sering digunakan dalam bentuk janji politik yang bombastis, namun tanpa dasar yang jelas.

BACA JUGA...  Spiritualitas Publik sebagai Pondasi Pembangunan: Refleksi dari Zikir Akbar Aceh Selatan

Dalam masa kampanye, kita kerap disuguhi oleh serangkaian janji yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Pertanyaan muncul, apakah janji tersebut benar-benar didasarkan pada analisis yang matang dan terencana? Tidak jarang, janji tersebut hanyalah alat untuk mengaduk emosi dan harapan masyarakat.

Politisi tahu betul bahwa mengandalkan argumen berbasis bukti dan rencana jangka panjang sering kali tidak menarik perhatian sebanyak janji populis yang memikat. Namun, setelah masa kampanye berakhir dan janji-janji tersebut tidak terealisasi, masyarakat kembali kecewa.