Narasi seperti itu, tentu lebih mudah diterima karena menyentuh emosi dasar manusia, yaitu rasa kebersamaan dalam kelompok.
Namun, apakah politik identitas ini mampu membawa solusi nyata bagi masalah yang dihadapi daerah?
Pertanyaan lain, apakah sekedar merasa bangga memiliki pemimpin yang “seperti kita” bisa menyelesaikan tantangan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja? Jawabannya, tentu tidak.
Ketika sentimen identitas menjadi alat utama dalam Pilkada, bisa berisiko terhadap kehilangan substansi dalam memilih pemimpin yang benar-benar kompeten dan mampu bekerja untuk semua orang, bukan hanya untuk kelompok tertentu.
Janji Politik yang Populis dan Tanpa Dasar
Selain politik identitas, sentimen juga sering digunakan dalam bentuk janji politik yang bombastis, namun tanpa dasar yang jelas.
Dalam masa kampanye, kita kerap disuguhi oleh serangkaian janji yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Pertanyaan muncul, apakah janji tersebut benar-benar didasarkan pada analisis yang matang dan terencana? Tidak jarang, janji tersebut hanyalah alat untuk mengaduk emosi dan harapan masyarakat.
Politisi tahu betul bahwa mengandalkan argumen berbasis bukti dan rencana jangka panjang sering kali tidak menarik perhatian sebanyak janji populis yang memikat. Namun, setelah masa kampanye berakhir dan janji-janji tersebut tidak terealisasi, masyarakat kembali kecewa.




