OPINI  

Sentimen Menggantikan Argumen, Apa yang Tersisa dari Pilkada  Demokratis?

Ini adalah siklus yang terus berulang, di mana sentimen diciptakan untuk meraih suara, tetapi tak pernah diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang berdampak positif.

Kontroversi dan Manipulasi Emosi di Media Sosial

Pada  era digital sekarang ini, media sosial telah menjadi medan laga  bagi kandidat.

Alih-alih menjadi ruang untuk mendiskusikan program dan solusi, media sosial sering dimanfaatkan untuk memancing emosi pemilih dengan cara yang cepat dan mudah.

BACA JUGA...  Polda Aceh Siap Sukseskan PON XII Aceh-Sumut 2024

Konten yang menyulut kontroversi, menyebarkan rasa takut, marah, atau kebanggaan berlebihan, lebih sering viral daripada analisis mendalam tentang kebijakan publik.

Ini bukan fenomena yang kebetulan, tetapi  algoritma media sosial didesain untuk menonjolkan konten yang memicu respons emosional.

Jadi, wajar jika para tim sukses  memilih untuk menggiring opini publik melalui sentimen emosional, bukan melalui argumen yang masuk akal.

BACA JUGA...  MBG yang Bagus dalam Perencanaan, Namun Amburadul dalam Pelaksanaan

Ketika masyarakat lebih banyak disuguhkan dengan konten yang memecah belah atau menguatkan bias emosi mereka, ruang untuk diskusi rasional tentang masa depan daerah semakin menyempit.

Tidak Ada  Perdebatan Kebijakan yang Substantif

Pilkada yang sehat seharusnya menjadi ajang bagi perdebatan kebijakan yang substantif. Kandidat, mesti  bersaing dalam mempresentasikan rencana mereka untuk memperbaiki ekonomi lokal,