“Pemulihan RSUD Muda Sedia bukan hanya membangun ulang gedung dan alat kesehatan, tetapi memastikan masyarakat Aceh Tamiang tetap memiliki akses layanan kesehatan yang layak, bahkan di tengah krisis.”
[dr Andika Putra, SpPD, FINASIM, MHKes, Direktur RSUD Muda Sedia]
- RSUD Muda Sedia dan Luka Panjang Pelayanan Kesehatan Aceh Tamiang
PAGI ITU, aroma lumpur belum sepenuhnya hilang dari lorong-lorong RSUD Muda Sedia. Di beberapa sudut bangunan, bekas garis air setinggi dada orang dewasa masih terlihat samar di dinding. Lebih dari sebulan pascabanjir bandang dan longsor yang melanda Aceh Tamiang akhir November 2025, rumah sakit rujukan utama kabupaten ini belum sepenuhnya bangkit.
Pelayanan kesehatan berjalan, tetapi dengan nafas pendek [parsial], terbatas, dan penuh kompromi. Di balik aktivitas medis yang kembali bergerak, tersimpan kenyataan pahit; sistem kesehatan yang rapuh ketika berhadapan dengan bencana ekologis berskala besar.
RUMAH SAKIT YANG SEMPAT LUMPUH TOTAL
BANJIR besar akhir November 2025 menjadi titik balik yang keras bagi RSUD Muda Sedia. Air bah setinggi hingga tiga meter, bercampur lumpur setebal lebih dari 30 sentimeter, merendam hampir seluruh bangunan rumah sakit. Aktivitas medis lumpuh total.



