Ruang perawatan, IGD, instalasi bedah, laboratorium, hingga sarana penunjang tak luput dari terjangan air dan lumpur.
Direktur RSUD Muda Sedia, dr Andika Putra, SpPD, FINASIM, MHKes, menyebut dampak banjir bukan sekadar kerusakan fisik, tetapi juga memukul jantung pelayanan kesehatan masyarakat Aceh Tamiang.
Lebih dari satu bulan berlalu, pemulihan belum sepenuhnya tuntas.
PELAYANAN YANG KEMBALI, TAPI BELUM NORMAL
ANDIKA, mengakui kondisi pelayanan rumah sakit hingga pertengahan Januari 2026 belum sepenuhnya ideal. Pelayanan medis kini dipusatkan di ruang triase sebagai pintu awal penanganan pasien.
Ruang VIP dan ruang rawat inap terpadu dialihfungsikan untuk melayani pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, termasuk pelayanan spesialistik.
Beberapa layanan penting seperti emergency room dan operation center mulai diaktifkan kembali. Namun, keterbatasan alat kesehatan menjadi hambatan utama.
“Untuk rumah sakit, kondisinya memang masih parsial. Pelayanan diposisikan di ruang triase terlebih dahulu, kemudian ruang VIP dan rawat inap terpadu digunakan untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan,” ujar Andika.
Mesin medis, perangkat elektronik, hingga sarana diagnostik rusak berat. Bahkan, sejumlah ambulans ikut terdampak dan tak bisa dioperasikan.
“Alat-alat itu sudah terendam lumpur. Kami lakukan identifikasi sesuai arahan Menteri Kesehatan, baik untuk alat kesehatan maupun sarana-prasarana yang terdampak,” kata dr Andika.
Kondisi ini membuat pelayanan kesehatan berjalan dengan peralatan darurat, pinjaman, atau bantuan sementara; sebuah situasi yang jauh dari standar ideal rumah sakit rujukan.




