PEMULIHAN RSUD Muda Sedia melibatkan lintas sektor; Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat sekitar. Ratusan relawan kesehatan dari Kementerian Kesehatan dikerahkan ke Aceh Tamiang.
BNPB mencatat, relawan tersebut terdiri dari 125 dokter spesialis, 220 dokter umum dan dokter gigi, 67 apoteker, 312 bidan dan perawat, serta ratusan tenaga medis dan nonmedis lainnya.
Mereka tidak hanya bertugas di rumah sakit, tetapi juga menyebar hingga puskesmas dan desa-desa terdampak.
“RSUD Muda Sedia tetap berupaya memberikan pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan sarana yang masih bisa digunakan,” kata Ferdiyus.
PELAN, TAPI BERGERAK
SEJAK 9 Desember 2025, RSUD Muda Sedia mulai kembali melayani masyarakat. IGD sementara difungsikan sebagai ruang rawat inap ringan. Satu ruangan digunakan untuk bedah minor dan persalinan. Layanan rawat inap dan poliklinik dibuka, meski dengan keterbatasan.
Pemulihan ini bukan hanya soal membersihkan lumpur dan mengganti alat. Ia membuka pertanyaan lebih besar; sejauh mana sistem kesehatan daerah siap menghadapi bencana ekologis yang kian sering dan ekstrem?
DENYUT KEMBALI BERDETAK
DI RSUD Muda Sedia, denyut kehidupan perlahan kembali berdetak. Tenaga medis bekerja dalam keterbatasan, pasien datang dengan harapan sederhana; sembuh dan tertangani dengan layak.




