Pante Bidari Gelap, Warga Bertahan Lapar

Pante Bidari
Anwar (45) bertahan di atap rumah tetangga selama banjir besar melanda Pante Bidari, Aceh Timur, menunggu air surut dan menyelamatkan diri dari arus deras, 27 November 2025. Foto: Ist

LHOKNIBONG (MA) – Banjir besar yang menghantam Kecamatan Pante Bidari sejak 25 November 2025 masih meninggalkan trauma mendalam bagi ribuan warga. Air setinggi empat meter yang datang dari hulu Sungai Arakundo menerjang tanpa memberi ruang bagi warga untuk bersiap. Rumah-rumah hanyut, akses putus, dan desa-desa terisolasi hingga air mulai surut pada 29 November.

Di antara ribuan cerita pilu itu, kisah Anwar (45) menggambarkan betapa dahsyatnya bencana kali ini. Saat banjir datang, rumahnya hanyut dibawa arus deras. Ia hanya bisa menyelamatkan diri dengan memanjat atap rumah tetangga dan bertahan berhari-hari, menunggu air surut. “Kalau bukan karena Allah menolong malam itu, saya mungkin sudah hanyut bersama rumah,” ucapnya lirih saat ditemui media ini, Senin (1/12/2025).

BACA JUGA...  Penggerakan SMSI Untuk Pers Indonesia 

Kini, setelah banjir surut, kampung Anwar masih gelap gulita. Listrik belum menyala, sehingga seluruh aktivitas warga terganggu. Untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan mengisi ponsel atau peralatan listrik, Anwar terpaksa mencari listrik ke Kota Panton Labu, Aceh Utara, bersama warga lainnya. Malam di kampungnya seperti mati, gelap dan sepi, sementara kebutuhan mendesak terus menumpuk.

BACA JUGA...  KASAD BAKAL RESMIKAN DUA SEKOLAH HASIL RENOVASI TNI AD DI ACEH

Banjir tidak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga menyisakan kelaparan. Bantuan yang datang minim: tiga sak beras per desa, membuat setiap kepala keluarga hanya menerima segenggam beras. Warga pun harus menahan lapar, terutama anak-anak. Harga barang meningkat drastis: telur Rp75 ribu per papan, Indomie Rp125 ribu per kardus, beras Rp320 ribu per sak, dan air mineral Rp7 ribu per botol, dengan stok sangat terbatas. Air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak.

BACA JUGA...  Hoaks Hambat Pemulihan Banjir Aceh Tamiang

“Air bersih dan logistik adalah yang paling kami harapkan saat ini. Anak-anak menangis karena haus, sementara rumah kami rata dengan tanah,” kata Anwar.

Banjir mungkin sudah surut, tapi penderitaan warga Pante Bidari belum berakhir. Gelap, lapar, dan haus masih menyelimuti mereka. Warga menunggu uluran tangan agar bisa kembali hidup layak dan membangun kembali kampung yang hilang ditelan banjir. (MTU)