“Saya hanya meminta pertolongan pada Allah SWT,” katanya lirih saat ditemui mediaaceh.co.id, Senin, 17 November 2025. Tatapannya sayup, namun tidak padam. “Rezeki sedikit tak apa, yang penting halal.”
DI sebuah sudut Kampung Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, berdiri sebuah rumah kecil berukuran 4×6 meter yang warnanya kian pudar dimakan hujan, panas, dan waktu.
Cat biru muda di dindingnya terlihat mengelupas, sementara papan-papan yang menjadi rangka dinding rumah itu sudah bolong–bolong.
Beberapa bagian dinding bahkan keropos dan tinggal setebal jari, seolah hanya menunggu satu musim hujan lagi untuk benar-benar menyerah.
Di dalam rumah itulah Zainal Arifin, warga setempat yang kini berusia 61 tahun, menjalani hari-harinya. Tidak ada gemerlap, tidak ada keluhan lantang. Zainal hidup dengan cara yang paling sunyi; bekerja serabutan, menahan sakit sendiri, dan membesarkan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMA.
“Saya hanya meminta pertolongan pada Allah SWT,” katanya lirih saat ditemui mediaaceh.co.id, Senin, 17 November 2025. Tatapannya sayup, namun tidak padam. “Rezeki sedikit tak apa, yang penting halal.”
Keropos Rumah, Keropos Daya.
MASUK ke halaman rumah Zainal, yang tampak pertama kali adalah dinding papan yang sudah berlubang-lubang. Dari luar, sinar matahari bisa menembus bilik rumah melalui celah-celah yang tak lagi dapat ditutup.



