Karena itu, ia berharap ada tangan yang mau membantu [baik pemerintah, dermawan, atau siapapun yang memiliki kepedulian sosial].
“Musim hujan ini berat sekali, pak. Kami tidur di bawah tetesan air hujan. Atapnya bocor semua…” katanya lirih.
Permintaan itu bukan keluhan. Bukan tuntutan. Hanya bisikan harapan seorang ayah yang ingin memberikan tempat tinggal yang layak bagi putrinya sebelum usia senja benar-benar menghabiskan tenaganya.
Warga Pesisir yang Terlupakan.
KISAH Zainal bukan satu-satunya di kawasan pesisir Aceh Tamiang. Banyak keluarga hidup dalam kondisi ekonomi sulit, dengan pekerjaan yang tidak tetap dan rumah yang jauh dari kata layak huni.
Zainal mewakili wajah-wajah sunyi masyarakat kampung yang tak pernah tampil di panggung besar, namun menjalani perjuangan hidup yang sangat nyata.
Mereka mungkin tak bersuara keras, namun setiap hari menjalani hidup dengan keterbatasan demi keterbatasan.
Di kampung-kampung seperti Teluk Halban, solidaritas sosial sering kali menjadi kekuatan terakhir yang menjaga warga dari keterpurukan. Namun tidak semua dapat terus bertahan tanpa dukungan yang lebih nyata.
Menunggu Uluran Tangan Pemerintah dan Dermawan.
KINI, rumah Zainal nyaris tak mampu lagi bertahan. Jika tidak segera direhab, bukan tidak mungkin bangunan itu akan runtuh. Dan bila itu terjadi, Zainal dan anaknya tak memiliki tempat lain untuk bernaung.




