ZAINAL kini hidup berdua bersama anak bungsunya, seorang siswi SMA Negeri Sungaiyu. Sementara istri yang dulu menjadi tempat ia berbagi beban telah lama meninggal dunia.
Biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, dan perbaikan rumah; semuanya kini berada di pundaknya.
Namun bagi Zainal, pendidikan anaknya adalah sesuatu yang tak bisa dinegosiasikan. Ia ingin anak perempuannya tamat sekolah, meski ia harus bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan itu.
“Saya tak mau anak saya putus sekolah. Dia harus pintar, biar hidupnya nanti tak seperti saya,” ucapnya, menahan suara agar tidak pecah.
Keinginan itu menjadi bahan bakar hidup Zainal. Meski tubuhnya semakin renta, ia tetap memaksakan diri bekerja agar dapur tetap mengepul. Setiap rupiah ia sisihkan untuk ongkos, buku, dan pakaian sekolah anaknya.
Ketika Harapan Berbisik Pelan.
SUATU hari, Zainal memberanikan diri menyampaikan harapannya kepada pemerintah daerah, khususnya Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bukan untuk meminta uang atau bantuan berlebihan, tetapi hanya satu permintaan sederhana; merehabilitasi rumahnya yang hampir roboh.
“Pak Bupati… bantulah ringankan beban saya. Untuk merehab rumah saya, pak,” pintanya dengan suara nyaris patah.
Zainal tahu betul, upah kerja serabutan tak akan pernah cukup untuk memperbaiki rumahnya. Bahkan untuk membeli seng bekas pun ia harus menabung berbulan-bulan.




