OPINI  

Rotasi Pejabat, Publik Menunggu Bukti Kinerja

Dalam teori administrasi publik klasik, Max Weber memandang birokrasi ideal sebagai organisasi rasional yang bekerja berdasarkan pembagian tugas yang jelas, kompetensi teknis, serta hierarki yang bersifat impersonal. Rotasi jabatan dipahami sebagai mekanisme untuk mencegah stagnasi organisasi, memperluas pengalaman manajerial aparatur, dan menjaga profesionalisme birokrasi. Dengan demikian, rotasi bukanlah sebuah anomali, melainkan instrumen manajemen yang sah sepanjang dijalankan secara objektif dan konsisten.

BACA JUGA...  Bendera Terbalik di SEA Games 2017, Sebuah Kesengajaan

Namun demikian, dalam perspektif tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), legalitas tidak selalu identik dengan legitimasi. UNDP menempatkan transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas sebagai pilar utama pemerintahan yang berkualitas. Tantangan utama rotasi pejabat di Aceh Barat bukan terletak pada kewenangan kepala daerah, melainkan pada sejauh mana dasar evaluasi kinerja dan uji kompetensi dikomunikasikan secara terbuka, baik kepada publik maupun internal birokrasi.

BACA JUGA...  Diskriminasi Proses Penegakan Hukum Terhadap Oknum Berdasi Dinsos Bireuen

Minimnya informasi mengenai indikator dan hasil penilaian berpotensi melahirkan apa yang dalam literatur kebijakan disebut sebagai defisit legitimasi administratif.

Dari sisi pelayanan publik, Osborne dan Gaebler melalui konsep reinventing government menekankan pentingnya birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome), bukan sekadar kepatuhan terhadap prosedur.