Rere di Garis Mutu Pemulihan Aceh Tamiang

Banyak bangunan dipenuhi lumpur, sampah, dan material sisa banjir.

Sebagian bahkan tidak dapat langsung digunakan masyarakat.

Rere kembali berada di garis depan pengawasan.

Ia memastikan proses pembersihan berjalan sistematis dan sesuai target.

“Kami ingin fasilitas publik segera kembali berfungsi agar aktivitas masyarakat bisa pulih lebih cepat,” ujarnya.

Dalam kondisi pascabencana, pemulihan fasilitas umum memang menjadi kebutuhan mendesak.

BACA JUGA...  UU Narkotika Adalah UU Super Khusus, MA Wajib Menghukum Rehabilitasi Penyalah Guna

Sekolah harus kembali dibuka.

Aktivitas ibadah harus berjalan.

Pelayanan publik harus pulih.

Dan semua itu membutuhkan kerja cepat sekaligus presisi.

Memberdayakan Penyintas

SALAH satu kebijakan yang diterapkan WiKA dalam proyek ini adalah melibatkan tenaga kerja lokal.

Menurut Rere, perusahaan saat ini mempekerjakan sekitar 700 warga lokal.

Mayoritas berasal dari keluarga yang juga terdampak bencana.

BACA JUGA...  RUMAH SAKIT DI TENGAH LUMPUR

Mereka bekerja dalam berbagai bidang, mulai dari pembangunan huntara hingga pembersihan fasilitas umum.

Kebijakan itu memberi efek ganda.

Pemulihan berjalan lebih cepat karena tenaga kerja tersedia.

Di sisi lain, warga terdampak memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

“Ini bukan hanya soal proyek, tapi juga soal bagaimana masyarakat bisa bangkit kembali,” kata Rere.

Pendekatan tersebut membuat kehadiran WiKA diterima positif oleh masyarakat.